Senin, 19 November 2012

HUBUNGAN STRESS PERAWAT DAN BEBAN KERJA


Rumah sakit adalah salah satu penyelenggara pelayanan kesehatan, yang merupakan tempat dan tumpuan harapan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Rumah sakit harus mampu memberikan pertolongan dan perawatan yang memadai, berupa pelayanan yang nyaman, tepat, bermanfaat dan profesional. Untuk itu, rumah sakit dituntut memberikan pelayanan dengan mutu yang baik dan menyediakan fasilitas yang dilengkapi sarana peralatan yang memadai dan modern dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional yang mampu menghasilkan produktifitas kerja yang tinggi. Ruang lingkup keperawatan mencakup : keperawatan medikah bedah, keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan gawatdarurat, keperawatan komunitas, keperawatan gerontik, keperawatan jiwa (Depkes, 1998).
Pelayanan pasien di rumah sakit sangat tergantung dari pelayanan keperawatan.  Interaksi dan komunikasi dalam upaya penyembuhan pasien antara pasien dan perawat sangat menentukan dalam pelayanan kesehatan pada pasien.  Pelayanan keperawatan diberikan selama 24 jam kepada pasien secara terus menerus, oleh karena itu profesionalisme dan keterampilan perawat sangat menentukan dalam keberhasilan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Guna kesinambungan dalam pelayanan kesehatan pihak rumah sakit sangat membutuhkan tenaga keperawatan. Oleh karena itu pihak rumah sakit merekrut tenaga keperawatan. Tenaga keperawatan yang direkrut merupakan perawat yang baru lulus dan sudah mempunyai surat ijin praktek (SIP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Permenkes No. 148, 2010).
Perawat orientee atau perawat baru adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan formal keperawatan dan masih memerlukan bimbingan untuk membangun kepercayaan diri, menurunkan tingkat stress, meningkatkan kemampuannya dalam memberikan asuhan keperawatan (Kramer, Management Decision Making For Nurses, 1974). Schmalenberg dan Kramer (1974), mengatakan ada 4 fase yang harus dilalui oleh perawat orientee atau perawat baru yaitu fase bulan madu (honey moon), fase shock, fase pemulihan, fase resolusi (Marry Holle, 1979). Perawat orientee merupakan perawat yang perawat baru lulus dari pendidikan yang akan memasuki dunia baru yaitu pekerjaan. Perawat orientee yang akan memasuki dunia baru akan bertemu dengan lingkungan yang baru, teman kerja yang baru, prosedur atau tindakan yang baru dan belum pernah diajarkan di pendidikan dapat meningkatkan stress pada perawat orientee. Oleh karena itu sebelum perawat ditempatkan pada pekerjaannya ia harus diperkenalkan dengan organisasi melalui berbagai bentuk orientasi. Proses ini merupakan penting karena suatu pekerjaan baru adalah sulit dan meyebabkan  stress bagi karyawan baru.
Pelatihan orientasi dilakukan untuk mempersiapkan perawat-perawat baru agar dapat siap bekerja di ruang-ruang perawatan dan ruang pelayanan sangat diperlukan.  Agar pelatihan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan maka dilakukan kajian kebutuhan pelatihan sebagai dasar untuk mendesain pelatihan orientasi tersebut. Oleh karena itu diperlukan program orientasi perawat baru agar lebih mudah dalam beradaptasi dan hal tersebut tidak terlepas dari peranan pembimbing lapangan yang merupakan seorang perawat berpengalaman yang telah ditunjuk institusi sebagai pembimbing dalam membantu proses adaptasi dan sosialisasi perawat orientee (Regina Novita, 2001). Melalui orientasi pada awal penugasan diharapkan perawat orientee lebih siap menerima tanggung jawab, serta dapat bekerja dengan penuh keyakinan karena telah mengetahui situasi, kondisi, peraturan, hak, kewajiban.
Perawat dalam menjalankan profesinya sangat rawan terhadap stres, kondisi ini dipicu karena adanya tuntutan dari pihak organisasi dan interaksinya dengan pekerjaan yang sering mendatangkan konflik atas apa yang dilakukan. Nursalam (2002) mengatakan, beban kerja yang sering dilakukan oleh perawat bersifat fisik seperti mengangkat pasien, mendorong peralatan kesehatan, merapikan tempat tidur pasien, mendorong brankart, dan yang bersifat mental yaitu kompleksitas pekerjaan misalnya keterampilan, tanggung jawab terhadap kesembuhan, mengurus keluarga serta harus menjalin komunikasi dengan pasien.
Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non spesifik mengharuskan seorang invidu untuk berespons atau melakukan tindakan dan fenomena universal dimana setiap orang mengalaminya dan memberi dampak secara total baik, fisik emosi, intelektual, sosial, dan spiritual ( Patricia A. Potter, 2005). Perubahan nilai kehidupan yang begitu cepat karena pengaruh globalisasi, modernisasi, informasi serta ilmu pengetahuan dan teknologi, hal tersebut berpengaruh terhadap pola hidup, moral dan etika. Perubahan lingkungan kerja dan tuntutan pekerjaan yang banyak sehingga dapat menyebabkan stress pada perawat . Perubahan tersebut dapat merupakan tekanan mental (stressor psikososial) sehingga bagi sebagian individu dapat beradaptasi untuk menanggulangi perubahan tersebut. Namun, apabila tidak dapat beradaptasi dan mengatasi stressor akibat perubahan tersebut bisa menyebabkan stress. Tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, akibatnya akan menimbulkan ketegangan yang dapat merupakan faktor pencetus, penyebab dan juga akibat dari suatu penyakit. Bertambahnya stress hidup akan menyebabkan terganggunya mental emosional yang dapat mengganggu produktivitas dan hidup seseorang menjadi tidak efisien ( Sunaryo, 2004 ).
Stress kerja menunujukan keadaan ketegangan yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan ( Sunaryo, 2004). Perawat tersebut akan mengalami berbagai masalah pribadi karena pekerjaan yang dilakukan memang merupakan pekerjaan yang berat, penuh stress dan perasaan tertekan.
Perawat adalah aset penting dalam memberikan perawatan, dukungan dan pengobatan bagi pasien-pasiennya. Faktor-faktor yang mempengaruhi stress pada perawat adalah beban kerja merupakan sumber stress yang didalamnya termasuk merawat banyak pasien, menghadapi keterbatasan tenaga, tuntutan kerja yang tinggi dan pekerjaan yang terus bertambah, hubungan kerja perawat dengan perawat dan tenaga kesehatan lainnya, pengetahuan tentang merawat pasien. Hal tersebut sangat berpengaruh pada perubahan yang dialami oleh perawat orientee. (Abraham C. & Shanley F , 1997).
Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI, 2006) sebanyak 50,9 % perawat Indonesia yang bekerja mengalami stres kerja, sering merasa pusing, lelah, kurang ramah, kurang istirahat akibat beban kerja terlalu tinggi serta penghasilan yang tidak memadai. Sementara itu, Frasser (1997) menjelaskan bahwa 74 % perawat mengalami kejadian stres, yang sumber utamanya adalah lingkungan kerja yang menuntut kekuatan fisik dan keterampilan.
Gambaran beberapa hasil penelitian diatas memperlihatkan bahwa beban kerja yang cukup berat dapat membuat perawat frustrasi karena ada tekanan pekerjaan, masih ada perasaan minder saat berada diruangan, hubungan kerja yang baik dapat meningkatkan kualitas pekerjaan yang professional, penegetahuan yang minim menyebabkan perawat orientee kurang percaya diri dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan kepada pasien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar