Rabu, 21 November 2012


Konsep Dasar Skizophrenia
Pengertian
·         Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan dan perilaku yang aneh dan terganggu (Sheila L. Videbeck, 2008).
·         Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, dan berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial.
( Isaacs, 2001 ).
·         Skizofrenia adalah gangguan yang meliputi karakteristik gangguan psikotik,    contohnya delusi, halusinasi, gangguan alam perasaan dan proses pikir (Schults, Judith.2000)

Gejala skizofrenia dibagi dalam dua kategori utama :
Gejala positif
Gejala negative
Halusinasi : persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak terjadi dalam realita.
Apatis : perasaan tidak peduli terhadap orang lain, aktivitas, peristiwa
Waham : keyakinan yang salah dan dipertahankan yang tidak memiliki dasar dalam realitas
Alogia : kecendrungan berbicara sangat sedikit atau menyampaikan sedikit makna pembicaraan
Ekopraksia : peniruan gerakan dan gesture orang lain yang diamati klien.
Afek datar : tidak ada ekspresi wajah yang menunjukan emosi atau mood
Flight of ideas : aliran verbalisasi yang terus menerus saat individu melompat dari satu topic ke topic yang lain dengan cepat
Afek tumpul : rentang keadaan emosional atau mood yang terbatas
Perseverasi : terus menerus membicarakan satu topic ; pengulangan kalimat, kata atau frasa dan menolak untuk mengubah topic pembicaraan.


Anhedonia : merasa tidak senang atau tidak gembira dalam menjalani hidup, aktivitas atau hubungan.
Asosiasi longgar : pikiran atau gagasan yang terpecah-pecah atau buruk.
Katatonia : imobilitas karena factor psikologis, kadang kala ditandai oleh periode agitasi atau gembira; klien tampak tidak bergerak, seolah-olah dalam keadaan setengah sadar
Gagasan rujukan : kesan yang salah bahwa peristiwa eksternal memilki makna khusus bagi individu
Tidak memiliki kemauan : tidak adanya keinginan, ambisi atau dorongan untuk bertindak melakukan tugas-tugas.
Ambivalensi :mempertahankan keyakinan atau perasaan yang tampak kontradiktif tentang individu, peristiwa atau situasi yang sama.


Jenis- jenis Skizoprenia
a)      Schizoprenia  Paranoid
         Dapat ditandai dengan adanya waham dan Halusinasi pendengaran, individu ini dapat menunjukkan sikap penuh curiga, argumentasi yang kasar dan agresif, prognosisnya lebih baik dibandingkan dengan jenis yang lain.Jenis skizofrenik ini sering mulai sesudah umur 30 tahun.
Seseorang yang menderita skizofrenia tipe paranoid menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut :
·         Waham (delusion) kejar atau waham kebesaran misalnya kelahiran luar biasa (exalted birth), misi atau utusan sebagai penyelamat bangsa, dunia, agama, kenabian, mesias atau perubahan tubuh. Waham cemburu seringkali jugaa ditemukan. 
·         Halusinasi yang berisi kejaran atau kebesaran
·         Gangguan alam perasaan dan perilaku, misalnya kecemasan yang tidak menentu, kemarahan, suka bertengkardanberdebat dan tindak kekerasan. Seringkali ditemukan kebingungan tentang identitas jenis kelaminnya atau ketakutan bahwa dirinya diduga sebagai seseorang yang homoseksual atau merasa dirinya didekati oleh orang-orang homoseksual.
Pihak keluarga hendaknya mewaspadai manakala salah seorang anggota keluarga menunjukkan gejala-gejala tersebut diatas dan pro aktif membawanya ke dokter ( psikiatri ). Sebab yang bersangkutan tidak merasa dirinya sakit dan karenanya tidak ada motivasi untuk berobat.

b)      Schizophrenia Disorganized/Schizophrenia Hebephrenik
         Schizophrenia Hebephrenik yaitu jenis schizophrenia yang mempunyai tanda dan gejala; bicara yang tidak teratur, perilaku yang tidak sesuai, afek yang tidak sesuai, perilaku menarik diri secara sosial yang ekstrim, mengabaikan higiene dan penampilan diri, perilaku regresif, dengan interaksi sosial dan kontak dengan realitas yang buruk, gejala yang mencolok ialah :gangguan proses berpikir,gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.Penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Onset kejadian pada usia akhir remaja atau awal kedewasaan dibawah usia 25 tahun.Ada kecenderungan kejadian meningkat pada keluarga yang mempunyai riwayat depresi atau psychosis. Mereka biasanya menjadi perokok berat,kekanak-kanakan,
c)      Schizophrenia Katatonik
         Dimanifestasikan dalam bentuk stupor (gangguan motorik seperti kekakuan,gerakan-gerakan yang diulang, anggota tubuh klien dapat diletakkan dalam sikap canggung dan dipertahankan klien, tapi klien mengerti semua yang terjadi di lingkungan), aktivitas motorik yang berlebihan, negativism yang ekstrim (perilaku ,gagasan yang bertentangan dengan orang kebanyakan), gerakan spontan yang aneh, ditandai dengan posturing, gerakan stereotype ,ecolalia atau echopraxia, grimasen yang menonjol gerakan otot muka yang berubah- ubah yang tidak dapat dikontrol klien )
d)     Schizophrenia tak tergolongkan
         Tanda gejala sama dengan schizophrenia awal namun tidak diketahui tanda gejala yang lain seperti waham,halusinasi,inkoheren atau perilaku kacau yang tidak jelas atau perilaku kacau yang tidak jelas.Klasifikasi ini digunakan bila tidak ditemukan tanda gejala pada tipe yang lain.
e)      Schizophrenia residual
         Pada tipe ini terdapat gangguan yang terjadi secara terus menerus yang diindikasikan dengan tanda negatif yakni terdapat satu atau lebih tanda gejala umum pada schizophrenia.Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan schizofrenik.

Psikodinamika
a)      Etiologi
o   Pertimbangan umum
Penyebab pasti dari skizofrenia belum diketahui, dapat disebabkan oleh interaksi yang kompleks antara berbagai faktor
o   Predisposisi genetik
Penelitian telah berfokus pada kromosom 6, 13, 18 dan 22. Risiko terjangkit skizofrenia bila gangguan ini ada dalam keluarga adalah sebagai berikut :
-          Satu orangtua yang terkena : risiko 12- 15 %
-          Kedua orangtua terkena : risiko 35 – 39 %
-          Saudara sekandung ; risiko 8 – 10 %
-          Kembar   dizigotik ; risiko 15 %
-          Kembar monozigotikkk : risiko 50 %
o   Abnormalitas perkembangan saraf
Penelitian menunjukkan bahwa malformasi janin minor yang terjadi pada awal gestasi berperan dalam manifestasi akhir dari skizofrenia. Faktor yang mempengaruhi perkembangan saraf dan diindetifikasi sebagai risio adalah :
-          Individu yang ibuya terserang influenza pada trimester kedua
-          Individu yang mengalami trauma  atau cidera pada waktu dilahirkan
-          Penganiayaan atau trauma di masa bayi atau kanak-kanak awal
o   Abnormalitas struktur otak
-          Pembesaran ventrikel
-          Penurunan aliran darah kortikal, terutama di korteks prefrontal
-          Penurunan aktivitas metabolik di bagian-bagian otak tertentu
-          Atrofi serebri
o   Ketidakseeimbangan neurokimia (neurotransmiter)
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya dopamin tetapi juga neurotransmitter lainnya termasuk serotonin, nrepinefrin, glutamat dan GABA. Homeostasis atau hubungan antarneurotransmiter mungkin lebih penting dibanding jumlah relatif neurotransmiter tertentu.
o   Proses psikososial dan lingkungan
§  Teori perkembangan
Ahli teori seperti Freud, Sullivan, dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya pehatian yang hangat dan penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri, salah iterpretasi terhadap realitas, dan menarik diri dari hubungan pada penderita skizofrenia.
§  Teori keluarga
Teori-teori yang berkaitan dengan peran keluarga dalam munculnya skizofrenia belum divalidasi dengan penelitian. Bagian fungsi keluarga yang telah diimplikasikan dalam peningkatan angka kekambuhan individu denga skizofrenia adalah sangat mengekspresikan emosi (high expressed emotion)

§  Status sosial ekonomi
Hasil penelitian yang konsisten adalah hubungan yang kuat antara skizofrenia dan status sosial ekonomi yang rendah.

§  Model kerentanan stres
Model interaksional yang mengatakan bahwapenderia skizofrenia mempunyai kerentanan genetik dan biologik terhadap skizofrenia. Kerentanan ini, bila disertai dengan pajanan stresor kehidupan da[pat menimbulkan gejala-gejala pada individu tersebut.

Proses terjadinya skizofrenia
Di dalam otak terdapat milyaran sambungan sel. Setiap sambungan sel menjadi tempat untuk meneruskan maupun menerima pesan dari sambungan sel yang lain. Sambungan sel tersebut melepaskan zat kimia yang disebut neurotransmitter yang membawa pesan dari ujung sambungan sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain. Di dalam otak yang terserang skizofrenia, terdapat kesalahan atau kerusakan pada sistem komunikasi tersebut.
Skizofrenia terbentuk secara bertahap dimana keluarga maupun klien tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam otanya dalam kurun waktuyang lama. Kerusakan yang perlahan-lahan ini akhirnya menjadi skizofrenia yang tersembunyi dan berbahaya. Gejala yang timbul secara perlahan-lahan inibisa saja menjadi skizofrenia acute. Periode skizofrenia akut adalah gangguan yang singkat an kuat, yang meliputi halusinasi, penyesatan pikiran (delusi), dan kegagalan berpikir.
Kadang kala skizofrenia menyerrrang secara tiba-tiba. Perubahan perilaku yang sangat dramatisterjadi dalam beberapa hari atau minggu. Serangan yang mendadak selalu memicu terjadinya periode akut secara cepat. Beberapa penderita mengalami gangguan seumur hidup, tapi banyak juga yang bisa kembali hidup secara normal dalam petiode akut tersebut. Kebanyakan didapati bahwa mereka dikucilkan, menderita depresi yang berat, dan tidak berfungsi sebagaimana layaknya orang normal dalam lingkungannya. Dalam beberapa kasus, serangan dapat meningkat menjadi apa yang disebut skizofrenia kronis. Klien menjadi buas, kehilangan karakter sebagai manusia dalam kehidupan sosial, tidak memiliki motivasi, depresi, dan tidak memiliki kepekaan terhadap perasaannya sendiri.

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL : MENARIK DIRI



Gangguan Interaksi sosial: Menarik diri
1.      Pengertian.
·         Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Rawlins,1993 ).
·         Menurut Rasmun (2001) mengatakan bahwa reaksi yang ditampilkan pada perilaku menarik diri dapat berupa reaksi fisik yang ditunjukkan dengan individu menghindar dari stressor dan reaksi psikologis yang ditunjukkan dengan perilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan.
2.      Rentang respon sosial

 

       Respon adaptif                                                                                Respon maladaptive

 

        Menyendiri                                    Kesepian (loneliness)                        Manipulatif
        Otonomi                                        Menarik diri                                       Impulsif
        Bekerjasama (mutualisme)           Tergantung (dependent)                     Narcisisme
            Saling ketergantungan
        (interdependent)


a)      Respon adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial budaya yang umum berlaku atau individu tersebut masih dalam batas normal dalam menyelesaikan masalahnya. Respon ini meliputi:
1)      Menyendiri (solitude)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan merupakan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
2)      Otonomi
Merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial.
3)      Kebersamaan
Merupakan suatu kondisi dalam hubungan interpersonal di mana individu mampu untuk saling memberi dan menerima.
4)      Saling ketergantungan
Merupakan suatu hubungan saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
b)      Respon maladaptive adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungan. Respon maladaptif yang paling sering ditemukan adalah:
1)      Menarik diri
Merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan seseorang.
2)      Tergantung (dependent)
Terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.
3)      Manipulatif
Merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak bisa membina hubungan sosial secara mendalam.
4)      Impulsif
Individu impulsive tidak mampu membicarakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan.
5)      Narcisisme
Pada individu narcisisme terdapat harga diri yang rapuh secara terus-menerus, berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.

3.      Mekanisme menarik diri
Proses terjadinya menarik adalah :
a)      Faktor Biologis  yaitu otak yang merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial bila terdapat struktur yang abnormal pada otak seperti akrofi otak, perubahan ukuran, dan bentuk-bentuk sel dalam limbik dan kortikal. Hal ini terkait dengan teori neuro biologik pada skizofrenia dimana penyakit ini merupakan gangguan perkembangan neuro yang mana bagian otak tidak berkembang secara wajar atau fungsinnya tidak adekuat. Keburukan gejala yang timbul tergantung pada luasnya struktur yang mengalami kerusakan. Struktur yang mengalami masalah pada sistim limbik bisa mempengaruhi gejala – gejala positif dan struktur yang mengalami masalah pada bagian frontal korteks, bisa mempengaruhi gejala negatif. Penurunan volume otak dan ukuran talamus, peningkatan ukuran ventrikular dapat menggambarkan skizofernia. Peningkatan dopamin dan menurunnya metabolisme serotonin dapat juga menyebabkan skizofernia. Hiperaktivitas dari 5HT2, reseptor serotonin dapat mempengaruhi reseptor dopamin dan penurunan monoamine oxidase (MAO). Disfungsi dari  5HT2 dan Hipersensitife pada reseptor posinaptik dikaitkan dengan gejala negatif pada skizofernia. Dan gejala yang sering muncul pada skizofernia negatif adalah prilaku menarik diri. Pada amigdala akan terjadi pengaturan cemas dan takut, pengalihan buah pikiran impuls dari diri sendiri pada orang lain, terutama keinginan perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi. Gejala klinis yang ditemui pada pasien antara lain alogia, anhedonia, abulia, asosialitas, afek datar dan afek yang tidak sesuai.
b)      Berdasarkan model konsep psikoanalisa
Model ini dikembangkan pertama kali oleh Sigmund Freud. Model psikoanalisa bertitik tolak pada id, ego, super ego dan mekanisme pertahanan ego. Menurut model ini gangguan jiwa terjadi sebagai akibat dari pertahanan ego tidak dapat mengendalikan ansietas.
Gejala gangguan jiwa muncul sebagai upaya untuk mengatasi ansietas yang berhubungan dengan konflik yang tidak terselesaikan mengahkibatkan ansietas berat, tegang, yang diekspresikan lewat perasaan yang tidak adekuat, merasa tidak berharga, tidak diterima oleh orang lain. Hal ini mengahkibatkan munculnya koping yang tidak sesuai terhadap stres.
c)      Berdasarkan model interpersonal
   Pertama kali dikembangkan oleh Sullivan dan Peplau.
   Memperkenalkan self sistem.
·      Bad me, dipengaruhi orang tua dalam membesarkan anaknya. Jika anak selalu dimarahi atau dilarang atau dikatakan jelek / nakal.
·      Good me, jika anak selalu diberi reward dan memperbaiki hal yang tidak tepat serta selalu diberi pengertian dan dorongan maka akan terbentuk self yang baik. Dalam hubungan interpersonal adan dua hal yang membuat kita menjadi lebih baik, yaitu adanya kepuasan fisik maupun mental dan adanya rasa aman.
·      Not me, orang tua tidak konsisten dengan satu peraturan maka anak akan berkembang dengan tidak konsisten.
Sullivan menyatakan bahwa seseorang berdasarkan perilaku atas dua kompleks, yaitu kebutuhan akan kepuasan dan kebutuhan akan keamanan. Ketakutan mendasar pada manusia adalah takut ditolak oleh orang lain. Kecemasan pertama kali pada waktu bayi, selanjutnya dihubungkan dengan penolakan.
d)     Dari segi psikososial
            Klien yang mengalami masalah interkasi sosial cendrung sulit untuk berhubungan dengan orang lain karena konsep diri mereka yang tidak jelas. Harga diri rendah yang dimiliki klien menyulitkan kemampuan klien untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan dan tidak percaya diri. Klien dengan isolasi social mengalami kegagalan dalam membina hubungan dengan orang-orang sekitarnya mengalami kegagalan dalam hubungan sosial dikarenakan malu untuk berinteraksi yang mengakibatkan individu menarik diri dari lingkungan.
4.      Tanda – tanda menarik diri dilihat dari beberapa aspek :
a)      Aspek fisik :
Ø  Makan dan minum kurang
Ø  Tidur kurang atau terganggu
Ø  Penampilan diri kurang
Ø  Keberanian kurang
b)      Aspek emosi :
Ø  Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil
Ø  Merasa malu, bersalah
Ø  Mudah panik dan tiba-tiba marah
c)      Aspek sosial
Ø  Duduk menyendiri
Ø  Selalu tunduk
Ø  Tampak melamun
Ø  Tidak peduli lingkungan
Ø  Menghindar dari orang lain
Ø  Tergantung dari orang lain
d)     Aspek intelektual
Ø  Putus asa
Ø  Merasa sendiri
Ø  Kurang percaya diri

5.      Mekanisme koping
a)      Regresi
Regresi adalah menghindari stres, kecemasan dengan menampilkan perilaku kembali seperti perkembangan anak-anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi ansietas
b)      Supresi
Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Individu sewaktu-waktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi).
c)      Proyeksi : Pengalihan buah pikiran impuls dari diri sendiri pada orang lain, terutama keinginan perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.
d)     Menarik diri
Reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik atau psikologis. Reaksi fisik seperti: menjauhi polusi, sumber infeksi, gas, beracun sedangkan reaksi psikologis : perilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, rasa takut dan bermusuhan
6.      Pohon masalah
                                          Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi .....



 




                                           Gangguan konsep diri: harga diri rendah

                                                                        

                                                Koping mekanisme tidak efektif

7.      Asuhan keperawatan
a)      Pengkajian
Faktor predisposisi
·         Faktor perkembangan
-          Kegagalan pada masa tumbang
-          Kurangnya kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari orangtua
-          Hubungan interpersonal yang tidak harmonis


·         Faktor biologis
-          Genetik, kembar monozigot salah satu menderita skizofrenia 58 %
-          Atrofi otak
-          Pembesaran ventrikel
-          Penurunan berat serta volume otak
·         Faktor sosial budaya
-          Kemiskinan
-          Keluarga yang tidak stabil
-          Pendidikan yang tidak adekuat
Factor presipitasi :
·         Penolakan
·         Kehilangan
·         Kegagalan
·         Kurang reinforcement positif
·         Kerusakan komunikasi keluarga
·         Kurang support system dari keluarga
·         Perceraian, kegagalan
b)     Masalah keperawatan
·         Menarik diri
·         Konsep diri : harga diri rendah
·         Resiko gangguan persepsi sensori halusinasi


d)     Diagnosa keperawatan.
1)      Resiko gangguan persepsi sensori halusinasi b.d  menarik diri
2)      Menarik diri b.d Konsep diri : harga diri rendah

e)      Rencana keperawatan
DP 1 : Resiko gangguan persepsi sensori halusinasi b.d  menarik diri
TUM :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
TUK
Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria hasil :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau memberikan salam, mau menyebutkan nama, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi :
1)      Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
·         Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal
·         Perkenalkan diri dengan sopan
·         Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
·         Jelaskan tujuan pertemuan
·         Jujur dan menepati janji
·         Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
·         Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
R/ Hubungan saling percaya merupakan dasar interaksi, sehingga klien mau mengungkapkan perasaannya.
2)      Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Intervensi :
·         Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-  tandanya
R/ mengetaui sejauhmana pengetahuan klien tentang menarik diri.
·         Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau  tidak mau bergaul.
R/ mengetahui alasan klien menarik diri.
·         Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tandanya
R/ pasien mengetahui perilaku menarik dairi dan tanda-tandanya
·         Beri pujian terhadap kemampuan klien mwngungkapkan perasaannya.
R/ reinforcement positif meningkatkan harga diri klen.
3)      Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
Kriteria hasil :
a.      Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain. Misalnya  : banyak teman, tidak sendiri, bisa diskusi dll.
Intervensi :
o   Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain 
R/ mengetahui tingkat pengetahuan klien.
o   Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
R/ mengetahui keuntungan  berhubungan dengan orang lain.
o   Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
R/ meningkatkan pengetahuan klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
o   Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
R/ reinforcement positif meningkatkan harga diri klen
b.      Klien dapat menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Misalnya : sendiri, tidak punya teman, sepi dll.
o   Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
R/ mengetahui tingkat pengetahuan klien
o   Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
R/ mengetahui kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
o   Diskusi bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
R/ meningkatkan pengetahuan klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
o   Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
R/ reinforcement positif meningkatkan harga diri klen

4)      Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
Kriteria evaluasi :
Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap antara : K-P, K-P-P lain, K-P-P lain-K lain, K- Keluarga/kelompok/masyarakat.

Intervensi :
·         Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
R/ mengetahui pengetahuan klien dalam membina hubungan dengan orang lain.
·         Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain mlalui tahap : K-P,  K-P-P lain,  K-P-P lain-K lain,  K-Kel/Klp/Masy.
R/ kemampuan berhubungan dengan orang lain menandakan penurunan perilaku menarik diri.
·         Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
R/ reinforcement positif meningkatkan harga diri klien
·         Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.
·         Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
R/ menbantu klien menyusun jadwal kegiatan harian
·         Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
R/ menstimulus klien untuk melakukan kegiatan
·         Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
R/ reinforcement positif meningkatkan harga diri klien
5)      Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.
Kriteria evaluasi :
Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain untuk : diri sendiri dan orang lain.
Intervensi :
·         Dorong klien untuk menggungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
R/ perasaan senang dapat menstimulus seseorang melakukan hubungan dengan orang lain.

6)      Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga.
Kriteria hasil :
·         Menjelaskan perasaannya
·         Mejelaskan cara merawat klien menarik diri
·         Mendemonstrasikan cara perawatan klien menarik diri
·         Berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri.
    Intervensi :
a.       Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
·         Salam, perkenalan diri
·         Jelaskan tujuan
·         Buat kontrak
·         Eksplorasi perasaan klien
b.      Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
·         Perilaku menarik diri
·         Penyebab perilaku menarik diri
·         Akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
·         Cara keluarga menghadapai klien menarik diri
R/ agar keluarga kooperatif
c.       Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien dengan orang lain.
R/ dukungan orang terdekat meningkatkan rasa aman
d.      Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu.
R/ perhatian pada klien meningkatkan rasa aman bagi klien
e.       Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
R/ pujian meningkatkan fungsi keluarga.

  
DP 2. Menarik diri b.d harga diri rendah
TUM :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain dengan optimal
TUK :
1)      Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau memberikan salam, mau menyebutkan nama, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi :
·         Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terpeutik
·         Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
-          Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
-          Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negatif.
-          Utamakan memberi pujian yang realistik.
·         Klien dapat menilai kemampun yang dimiliki
Tindakan :
-          Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
-          Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkn penggunaannya.
·         Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampun yang dimiliki

Tindakan :
-          Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
-          Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien
-          Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
·         Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan :
-          Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
-          Beri pujian atas keberhasilan klien
-          Diskusikan kemungkinan pelaksanan di rumah
·         Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
-          Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat  klien dengan harga diri rendah
-          Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
-          Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Kriteria evaluasi :
Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimilikinya dalam 2 kali pertemuan.
Intervensi :
a.      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
R/ Agar klien menyadari kemampuan positif pada dirinya
b.      Setiap kali bertemu dengan klien hindari memberikan penilaian negatif
R/ Penilaian negatif dapat membuat klien menjadi semakin HDR
c.       Utamakan memberiakan pujian yang realistik.
R/ Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian.
d.      Bantu klien untuk menyebutkan cita-citanya
R/ Membantu mengungkapkan harapannya
3)      Klien dapat menilai kemampuan diri yang dapat digunakan
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menyebutkan kegiatan yang bisa dilakukan di panti.
Intervensi :
a.       Diskusikan bersama klien kegiatan -kegiatan yang bisa dilakukan dipanti.
R/ memotivasi klien untuk  mengidentifikasi kegiatan di panti.
4)      Klien dapat menyusun kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya.
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menyusun rencana kegiatan yang akan dilakukan di panti.
Intervensi :
a.      Bantu klien menyusun rencana kegiatan yang akan dilakukan
R/ rencana kegiatan membantu mengarahkan kegiatan klien
b.      Memberikan reinforcement positif
R/  meningkatkan harga diri klien.

5)      Klien dapat melaksanakan kegiatan secara bertahap sesuai dengan bimbingan.
Kriteria evaluasi :
Klien dapat melakukan kegiatan seperti yang telah disusun dalam pertemuan sebelumnya.
Intervensi :
a.      Beri contoh cara melakukan kegiatan sesuai jadwal yang dibuat bersama klien.
R/ Contoh memberikan model pelaksanaan kegiatan yang benar dan sesuai kemampuan klien.
b.      Berikan kesempatan klien untuk mendemonstrasikan kembali contoh yang telah diberikan
R/ Melatih kemampuan klien untuk melakukan kegiatan dan memberikan kesempatan kepada klien untuk berkembang.
c.       Beri reinforcement positif bila klien melakukan demonstrasi sesuai contoh.
R/ meningkatkan harga diri dan rasa percaya.